Gus Baha dan Kiai Azaim Beberkan Alasan Kiai Harus Kaya.

AB – Pandangan umum seringkali mengidentikkan figur seorang kiai atau ulama dengan kesederhanaan dan ke-zuhud-an, terkadang hingga ke taraf kemiskinan. Namun, dua ulama muda karismatik, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dan KH Ahmad Azaim Ibrahimy (Kiai Azaim), justru kompak menyuarakan pandangan sebaliknya: seorang kiai seharusnya kaya.

Pandangan ini, yang diulas dalam sebuah diskusi, bukanlah tanpa alasan. Keduanya sepakat bahwa kekayaan bagi seorang kiai bukanlah untuk tujuan kemewahan pribadi, melainkan sebagai alat strategi dakwah dan kemaslahatan umat yang lebih besar.

Logika Fikih Gus Baha: Mencegah Fitnah yang Lebih Besar

KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau Gus Baha, menjelaskan pandangannya menggunakan logika fikih (yurisprudensi Islam). Ia mengakui bahwa harta dalam banyak dalil sering disebut sebagai “fitnah” atau ujian.

“Kalau pakai logika fikih, harta itu fitnah. Oke, seakan-akan harta itu masalah,” ujar Gus Baha.

Namun, ia segera memberikan perspektif tandingan. Menurutnya, akan menjadi “masalah besar” atau fitnah yang jauh lebih destruktif jika harta tersebut justru dimiliki dan dikendalikan oleh orang-orang yang zalim atau tidak bertanggung jawab.

“Tapi kalau ini (harta) dimiliki orang zalim, maka akan menjadi masalah besar,” tegasnya.

Logika ini mengarah pada kesimpulan bahwa lebih baik orang-orang saleh (termasuk kiai) yang memegang kendali atas kekayaan, agar dapat menggunakannya untuk kebaikan dan mencegah kemudaratan.

Gus Baha juga mengisahkan dialog masyhur antara Imam Syafi’i dengan gurunya, Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani, yang juga seorang ulama kaya raya. Kisah itu menunjukkan bahwa kekayaan di kalangan ulama bukanlah hal tabu dan telah memiliki preseden sejarah.

Kiai Azaim: Kekayaan sebagai Sarana Penguat Dakwah

Senada dengan Gus Baha, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, KH Ahmad Azaim Ibrahimy, juga memaparkan alasan pentingnya kiai memiliki kemapanan finansial.

Bagi Kiai Azaim, setidaknya ada tiga alasan strategis:

  1. Menunjukkan Allah Maha Pemberi Rezeki: Kekayaan seorang kiai bukanlah untuk kesombongan, melainkan untuk membuktikan bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki. Ini menempatkan kekayaan sebagai manifestasi anugerah, bukan tujuan.
  2. Mencegah Eksploitasi: Jika seorang kiai tidak mandiri secara finansial, Kiai Azaim khawatir ia akan mudah “dimanfaatkan oleh oknum yang berkepentingan.” Kemandirian finansial menjaga independensi dan keluhuran dakwah.
  3. Kesalehan Ganda: Mengutip sebuah ungkapan, Kiai Azaim menyebut bahwa “Ketika harta yang saleh ada pada orang yang saleh, ini kan berarti kesalehan dobel (ganda).”

Pada intinya, kedua ulama ini memandang kekayaan sebagai “sarana penguatan dakwah”. Kekayaan di tangan seorang kiai yang amanah dapat menjadi benteng untuk melindungi umat dan memastikan dakwah tetap berjalan di atas rel yang lurus, tanpa intervensi pihak luar.

Reviews

85 %

User Score

3 ratings
Rate This

Leave your comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *