
Kisah Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas: Belajar Adab Saat Sahabat Nabi Berbeda Pendapat
AB – Dalam khazanah sejarah Islam, perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan ulama adalah hal yang lumrah dan menjadi bagian dari kekayaan intelektual. Sebuah kisah masyhur menunjukkan bagaimana dua sahabat Nabi Muhammad SAW yang agung, Zaid bin Tsabit RA dan Ibnu Abbas memiliki pandangan yang berbeda, namun tetap menunjukkan standar adab (etika) tertinggi.
Kisah ini menyoroti pelajaran penting tentang bagaimana mengelola perbedaan pandangan tanpa mengorbankan rasa hormat.
Dua Raksasa Intelektual
Kisah ini melibatkan dua figur sentral di Madinah. Pertama adalah Zaid bin Tsabit RA, sahabat Anshar yang dikenal sebagai “sekretaris Nabi.” Atas perintah Rasulullah SAW, Zaid adalah pencatat wahyu utama. Keahliannya diakui oleh para sahabat senior, sampai-sampai Khalifah Umar bin Khattab RA pernah berkata, “Hai manusia, siapa yang ingin bertanya tentang Alquran, maka datanglah kepada Zaid bin Tsabit.”
Figur kedua adalah Abdullah bin Abbas RA, sepupu Nabi Muhammad SAW. Didoakan secara khusus oleh Rasulullah SAW untuk memahami agama (faqih fiddin), Ibnu Abbas tumbuh menjadi ahli tafsir Alquran terkemuka dengan julukan Habrul Ummah (Tinta Umat).
Perbedaan Pandangan dalam Hukum Waris
Meskipun keduanya adalah sahabat terdekat Rasulullah SAW, mereka tidak selalu memiliki pemahaman yang sama dalam semua urusan fiqh (hukum Islam).
Suatu ketika, Zaid bin Tsabit dan Ibnu Abbas berselisih paham mengenai masalah faraidh (hukum waris) yang cukup teknis.
- Zaid bin Tsabit berpendapat bahwa seorang kakek tidak menghalangi hak waris saudara kandung dari orang yang meninggal.
- Abdullah bin Abbas berpendapat sebaliknya. Baginya, kakek memiliki kedudukan yang sama dengan ayah, sehingga keberadaan kakek dapat menghalangi (menjadi hijab) hak waris saudara kandung.
Perbedaan pendapat ini bukanlah perbedaan ringan. Dilaporkan bahwa Ibnu Abbas pernah menyatakan pandangannya dengan nada tinggi di sebuah majelis, mempertanyakan mengapa Zaid bin Tsabit tidak menyamakan kakek dengan ayah dalam masalah waris.
Pelajaran Adab di Atas Perbedaan
Inti dari kisah ini bukanlah tentang siapa yang benar atau salah dalam fiqh. Puncaknya terjadi pada sebuah insiden yang menunjukkan adab mulia di antara keduanya.
Suatu hari, Zaid bin Tsabit hendak menaiki bughal (hewan tunggangan). Tiba-tiba, Abdullah bin Abbas, yang usianya lebih muda dan merupakan keluarga Nabi, menghampiri dan memegang tali kekang tunggangan Zaid. Ia bermaksud menuntun hewan itu sebagai bentuk penghormatan.
Zaid bin Tsabit, merasa sangat sungkan, segera berkata, “Lepaskanlah, wahai anak paman Rasulullah!”
Namun, Ibnu Abbas menjawab dengan lembut, “Beginilah kami diajarkan untuk memperlakukan ulama (orang-orang berilmu) kami.”
Melihat penghormatan yang luar biasa tersebut, Zaid bin Tsabit tidak tinggal diam. Setelah berada di atas tunggangannya, ia meminta Ibnu Abbas untuk mengulurkan tangannya. Begitu Ibnu Abbas mengulurkan tangan, Zaid bin Tsabit langsung meraih, mendekatkan, dan mencium tangan tersebut.
Ibnu Abbas terkejut dan bertanya, “Apa yang engkau lakukan, wahai Zaid?”
Zaid bin Tsabit menjawab, “Beginilah kami diajarkan untuk memuliakan keluarga Rasulullah SAW.”
Kisah ini menjadi teladan abadi bahwa perbedaan pendapat dalam ijtihad tidak boleh merusak rasa saling menghormati, memuliakan ilmu, dan menghargai kedudukan.


